Autisme – Penyebab, Gejala, dan Bahayanya

Saat kita melihat anak berkelakuan berbeda dari anak pada umumnya, bukan tidak mungkin mereka memperlihatkan tanda autisme. Gangguan pertumbuhan neurobiologis ini mulai muncul pada tiga tahun pertama kehidupan.

Mungkin autisme ini akan bertahan sepanjang hidup jika tidak ditangani. Oleh sebab itu, Anda para orangtua, cobalah memahami apa itu Autisme – Penyebab, Gejala, dan Bahayanya.

Dengan mengetahui dan memahami autisme, kita dapat menghindari dan mengatasinya sedini mungkin.

Autisme – Penyebab, Gejala, dan Bahayanya

Autism spectrum disorder (ASD) atau autisme adalah istilah luas yang digunakan untuk menggambarkan sekelompok gangguan perkembangan saraf.

Gangguan ini ditandai dengan masalah komunikasi dan interaksi sosial. Orang dengan autisme sering menunjukkan minat atau pola perilaku yang terbatas, berulang, dan stereiotip.

Autisme adalah bagian dari kelompok penyakit yang disebut ASD, yang mencakup 4 gangguan lainnya :

  1. Sindrom Asperger, yang tidak seperti autisme, dosis tidak memperlambat perkembangan bahasa dan kongregasi
  2. Gangguan disintegratif anak, yang ditandai dengan 2 sampai 4 tahun perkembangan normal diikuti oleh timbulnya gejala autistik
  3. Sindrom Rett, yang merupakan penyakit genetik yang hanya menyerang anak perempuan
  4. Gangguan perkembangan meresap.

Seberapa Umumkah Autisme ini?

Autisme ditemukan pada individu di seluruh dunia, terlepas dari ras, budaya atau latar belakang ekonomi.

Autisme mempengaruhi sekitar 1 dari 68 anak-anak. Anak-anak dengan autisme biasanya menunjukkan tanda-tanda sebelum usia 2 tahun.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), autisme memang lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan, dengan rasio 4 banding 1 laki-laki.

Penyebab Autisme

Penyebab pasti autisme tidak diketahui. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tidak ada penyebab tunggal.

Beberapa faktor risiko yang diduga untuk autisme meliputi :

  • Memiliki anggota keluarga dekat dengan autisme
  • Mutasi genetik
  • Sindrom X rapuh dan kelainan genetik lainnya
  • Dilahirkan dari orang tua yang lebih tua
  • Berat lahir rendah
  • Ketidakseimbangan metabolisme
  • Paparan logam berat dan racun lingkungan
  • Riwayat infeksi virus
  • Pajanan janin terhadap obat asam valproat (Depakene) atau thalidomide (Thalomid).

Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), baik genetika dan lingkungan bisa memastikan apakah seseorang mengembangkan autisme.

Dan perlu diketahui, bahwa autisme tidak ada kaitannya dengan pemberian vaksin (terutama vaksin MMR). Justru dengan pemberian vaksin, anak akan terhindari dari infeksi seperti campak atau gondongan (mumps).

Gejala Autisme

Gejala autisme biasanya menjadi jelas selama anak usia dini, antara 12 dan 24 bulan. Namun, gejala juga dapat muncul lebih awal atau lebih lambat.

Gejala awal mungkin termasuk keterlambatan yang ditandai dalam perkembangan bahasa atau sosial.

DSM-5 membagi gejala autisme menjadi dua kategori, yaitu masalah dengan komunikasi dan interaksi sosial, serta pola perilaku atau kegiatan yang terbatas atau berulang.

Masalah dengan komunikasi dan interaksi sosial meliputi :

  • Tidak pernah merespons jika dipanggil, walaupun pendengarannya normal
  • Tidak pernah mengutarakan emosi, tidak peka terhadap orang lain
  • Tidak bisa memulai atau meneruskan percakapan
  • Sering menghindari kontak mata atau tidak menunjukkan ekspresi
  • Sering mengulang kata (echolalia)
  • Nada berbicara yang tidak biasa, misalnya datar semacam robot
  • Lebih senang menyendiri
  • Enggan berbagi, berbicara, atau bermain dengan orang lain
  • Menghindari dan menolak kontak fisik dengan orang lain.

Pola perilaku atau kegiatan yang terbatas atau berulang meliputi :

  • Peka terhadap cahaya, sentuhan atau suara, tetapi tidak merespons terhadap rasa sakit
  • Rutin menjalani aktivitas tertentu, dan marah jika ada perubahan
  • Memiliki kelainan pada sikap tubuh atau pola gerakan, misalnya selalu berjalan dengan berjinjit
  • Melangsungkan gerakan repetitif, misalnya mengayunkan tubuh ke depan dan belakang atau mengibaskan tangan.
  • Hanya memilih makanan tertentu, misalnya makanan dengan tekstur tertentu.

Selain berbagai macam gejala di atas, penderita autisme pun sering mengalami gejala yang berhubungan dengan keadaan lain, misalnya ADHD, sindrom Tourette, epilepsi,  gangguan obsesif kompulsif (OCD), gangguan kecemasan, dyspraxia, gangguan bipolar, dan depresi.

Baca Juga : Ciri-ciri Anak Autisme

Bahaya atau Komplikasi Autisme

Penderita autisme bisa jadi mengalami masalah pada pencernaan, pola makan atau pola tidur yang tidak seperti biasanya, perilaku agresif, dan sejumlah komplikasi lainnya, seperti :

  1. Gangguan mental

Autisme bisa mengakibatkan penderita mengalami cemas, depresi, gangguan suasana hati, dan perilaku impulsif.

  1. Gangguan sensorik

Penderita autisme bisa merasa sensitif dan risih pada lampu yang terang atau suara yang berisik. Pada beberapa kasus, penderita tidak merespons sensasi sensorik seperti panas, dingin atau nyeri.

  1. Kejang

Kejang berlaku pada penderita autisme, dan bisa terjadi pada usia kanak-kanak atau remaja.

  1. Tuberous sclerosis

Tuberous sclerosis adalah penyakit langka yang memicu tumbuhnya tumor jinak di banyak organ tubuh, termasuk otak.

Tidak ada obat untuk autisme. Perawatan yang paling efektif melibatkan intervensi perilaku awal dan intensif. Semakin dini seorang anak terdaftar dalam program ini, semakin baik prospeknya.

Ingatlah bahwa autisme itu kompleks, dan perlu waktu bagi seseorang dengan autisme untuk menemukan program yang paling cocok untuk mereka.

Itulah sekilas pembahasan kami mengenai kondisi autisme. Semoga bermanfaat dan terimakasih!

Autisme – Penyebab, Gejala, dan Bahayanya

Sumber

    https://medbroadcast.com/condition/getcondition/autism

    https://www.healthline.com/health/autism

    https://www.alodokter.com/autisme

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *